Pages

Rabu, 27 Maret 2013

Analisis kasus konseling lintas budaya



PEMBAHASAN

A.      Konseling Lintas Budaya
Untuk mengawali bahasan tentang konseling lintas budaya, kita akan sedikit membahas tentang konseling. Konseling pada hakikatnya adalah ilmu terapan, dalam arti bahwa konseling selalu berupaya menggunakan prinsip-prinsip keilmuannya untuk melakukan intervensi dalam rangka membantu individu atau kelompok  yang dilayaninya.Sebagai ilmu terapan, konseling memakai acuan berbagai disiplin ilmu antara lain: psikologi, sosiologi, antropologi, pendidikan dan sebagainya. Namun dari berbagai disiplin ilmu itu, maka disiplin psikologilah yang selama ini dipandang dominan mendasari konseling.Kita masih ingat tentang konsep ”psikologi konseling” yaitu suatu studi atau telaah yang memandang konseling lebih sebagai peristiwa psikologis yaitu hubungan konselor dan klien yang dilatari oleh nuansa psikologis. Begitupula, apabila ditinjau dari tujuannya, konseling pada akhirnya berurusan dengan pengubahan perilaku yang tidak lain merupakan kawasan kajian ilmu psikologi. Apalagi kalau dikaitkan dengan konseling sebagai treatmen maka semua pendekatan maupun teknik konseling berasal dari teori dan aliran psikologi, misalnya : psikoanalisis, gestalt, humanistik ataupun behavioristik.Menurut Burks dan Stefflre (dalam Shertzer, 1981) menjelaskan konseling adalah suatu hubungan professional antara konselor yang terlatih dengan klien. (Berdnard &Fullmer ,1969) Dalam pengertian konseling terdapat empat elemen pokok yaitu:
1.    Adanya hubungan,
2.    Adanya dua individu atau lebih,
3.    Adanya proses,
4.    Membantu individu dalam memecahkan masalah dan membuat keputusan.
Berdasarkan definisi diatas, dapat dismpulkan bahwa konseling adalah proses pelayanan bantuan terhadap individu maupun kelompok, agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bidang pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan social, kemampuan belajar, dan perencanaan karier, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Budaya adalah bagian lingkungan yang dibuat oleh manusia. Selanjutnya, manusia menjadi perilaku budaya itu sendiri.Tokoh pendidikan nasional bapak Ki Haiar Dewantara (1977) memberikan definisi budaya sebagai berikut: Budaya berarti buah budi manusia, adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh yang kuat, yakni alam dan jaman (kodrat dan masyarakat), dalam mana terbukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai bagal rintangan dan kesukaran didalam hidup penghidupannya, guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan, yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.Pendapat Ki Hajar Dewantara diperkuat oleh Soekanto (1997) dan Ahmadi (1996) yang mengarahkan budaya dari bahasa sanskerta yaitu buddhayah yang merupakan suatu bentuk jamak kata "buddhi" yang berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai hal hal yang bersangkutan dengan budi atau akal". Lebih ringkas, Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, mendefinisikan kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Dari definisi di atas, tampak bahwa suatu budaya tertentu akan mempengaruhi kehidupan masyarakat tertentu (walau bagaimanapun kecilnya). Dalam pengertian budaya, ada tiga elemen yaitu:
1.   Merupakan produk budidaya manusia,
2.   Menentukan ciri seseorang,
3.   Manusia tidak akan bisa dipisahkan dari budayanya.
Dalam mendefinisikan konseling lintas budaya, kita tidak akan dapat lepas dari istilah konseling dan budaya. Pada paparan-paparan terdahulu telah disajikan secara lengkap mengenai pengertian konseling dan pengertian budaya. Berdasarkan pengertian konseling beserta budaya diatas, maka konseling lintas budaya akan dapat terjadi jika antara konselor dan klien mempunyai perbedaan budaya yang sangat mendasar. Perbedaan budaya itu bisa mengenai nilai-nilai, keyakinan, perilaku,dsb. Perbedaan tersebut dapat muncul karena klien berasal dari budaya yang berbeda. Layanan konseling lintas budaya tidak hanya terjadi pada mereka yang berbeda suku tetapi dapat juga muncul dari suku bangsa yang sama. Misalnya saja seperti pada contoh kasus tentang perbedaan budaya dalam keluarga. Dalam kasus ini klien berasal dari satu golongan yakni negro tetapi dari ras yang berbeda laki-laki dari ras kulit hitam dan istri dari ras kulit putih. Pandangan yang jauh berbeda membuat pasangan tersebut tidak harmonis dalam membangun sebuah keluarga karena itulah permaslahan tersebut merambat pada kesalahan dalam mendidik anak.
Jadi konseling lintas budaya adalah suatu hubungan konseling dimana dua peserta atau lebih, berbeda dalam latar belakang budaya, nilai nilai dan gaya hidup. Maka konseling lintas budaya juga akan dapat terjadi jika antara konselor dan klien mempunyai perbedaan. Karena Kita mengetahui bahwa antara konselor dan klien pasti mempunyai perbedaan budaya yang sangat mendasar. Perbedaan budaya itu bisa mengenai nilai-nilai, keyakinan, perilaku dan lain sebagainya. Perbedaan ini muncul karena antara konselor dan klien berasal dari budaya yang berbeda.

B.       Kasus Konseling Lintas Budaya
Jeffrey (26 tahun) dan Theresa George (35 tahun) merupakan pasangan suami istri yang telah dikaruniai tiga orang anak yang masih kecil. Anak perempuan yang paling besar bernama Imari George (4 tahun). Sedangkan kedua adiknya laki-laki kembar bernama Kobi George dan Kadin George (2 tahun).Secara kultural Jeffrey dan Theresa dibesarkan dalam budaya yang sangat jauh berbeda. Jeffrey seorang negro kulit hitam yang dibesarkan pada keluarga yang disiplin ketat dan penuh peraturan. Sedangkan Theresa yang berkulit putih dibesarkan dalam keluarga yang cenderung bebas dan tidak terlalu ketat dalam hal peraturan. Ini jugalah yang menyebabkan perbedaan pandangan mereka berdua dalam mendidik anak dan juga pembagian tugas.
Dalam pembagian tugas di rumah tangga, Jeffrey mendapatkan porsi yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan Theresa. Sebagai seorang ayah selain mencari nafkah Jeffrey juga harus melakukan berbagai urusan rumah tangga seperti mencuci piring, mencuci baju, merawat anak, dan sebagainya. Sebagai kepala rumah tangga Jeffrey yang paling dominan dalam keluarga tersebut. Sedangkan Theresa hanya mendapatkan tugas-tugas rumah tangga yang lebih sederhana dan ringan. Dia juga cenderung menyerahkan berbagai tugas kepada suaminya. Sikapnya ini mungkin muncul akibat perbedaan pandangan yang terlalu mencolok antara pasangan tersebut tentang kehidupan ideal sebuah keluarga. Sehingga Theresa cenderung pasif dan menurut untuk menghindari konflik dengan suaminya.
Dalam pola pengasuhan pun mereka memiliki pandangan yang berbeda. Jeffrey yang dibesarkan dalam keluarga disiplin menginginkan anak-anaknya menjadi penurut. Berbeda dengan Theresa yang cenderung memberikan kebebasan kepada anak-anaknya. Dalam mendidik anak Jeffrey cenderung  lebihmemberikan instruksi langsung berupa perintah-perintah tegas kepada anak-anaknya, sedangkan Theresa biasanya memberikan perintah dengan cara meminta dan bukan menyuruh (memanjakan).
Perbedaan ini membuat anak-anak menjadi kebingungan dalam memahami aturan keluarga. Mereka mengalami kebingungan tentang mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak boleh dilakukan akibat perbedaan pendapat di antara kedua orang tua mereka. Seringkali ketika ayahnya mengatakan iya untuk suatu hal namun ibu mengatakan tidak, begitu pula sebaliknya dan terjadi secara berulang-ulang. Akibatnya anak-anak menjadi semakin kebingungan dengan perilaku orang tuanya sehingga mereka cenderung tidak terkendali dan berbuat semaunya.

C.      Faktor-faktor PenyebabKasus
1.         Adanya perbedaan latar belakang budaya yang mendasar
Ras negro kulit putih dan kulit hitam sangat berbeda walupun sama-sama orang negro.
2.         Faktor lingkungan
Pengaruh tempat tinggal dari  pasangan suami istri teersebut memiliki latar budaya yang berbeda walaupun masih dalam satu ras atau sama-sama orang negro akan tetapi berbeda jenis kulit. Hal tersebut  berdampak pula pada cara berfikir dari masing-masing individu sesuai dengan bagaimana ia dibesarkan dalam lingkungannya terutama pada lingkungan keluarga.
3.         Adanya perbedaan persepsi antara keduanya
Berdasarkan uraian diatas, dapat dilihat bahwa pasangan tersebut memiliki persepsi atau pendapat masing-masing tentang membentuk suatu keluarga yang ideal. Dalam pembagian tugas pihak suami lebih dominan dalam melakukan pekerjaan rumah ketimbang istri. Hal ini terjadi karena persepsi dari pihak wanita (istri) yang terkesan santai dan bebas, ia berfikir bahwa dulu ia merasa tidak pernah melakukan pekerjaan rumah atau pekerjaan berat lainnya sehingga ia terbiasa dengan hal tersebut dan menumpahkan pekerjaan tersebut terhadap suaminya. Sedangkan pihak laki-laki (suami) terbiasa dengan peraturan-peraturan yang dulu pernah diajarkan oleh orang tuanya dari aturan-aturan kecil seperti (setelah makan mencuci piring, membersihkan tempat tidur, dll) sampai pada peraturan-peraturan yang wajib seperti disiplin waktu, peraturan keluar rumah dan pulang tepat waktu, dll. Hal ini membuatnya menjadi terbiasa untuk mengambil alih pekerjaan rumah disamping bekerja dan juga sebagai kepala rumah tangga.
4.         Pola asuh orang tua dari masing-masing pihak masih digunakan sebagai acuan dalam berkeluarga terutama dalam hal mengasuh anak.
Dalam kasus dikatakan bahwa keduanya dibesarkan dengan cara yang berbeda oleh keluarga dan orang tuanya masing-masing. Jefry dibesarkan dengan didikan yang keras, penuh kedisplinan dan aturan-aturan yang harus ditaati dalam keluarga. Sedangkan Theresa cenderung diberikan kebebasan dan dimanjakan oleh orang tua dan keluarganya, ia dapat melakukan apapun sesukanya tanpa harus ada aturan yang disepakati dalam keluarga. Karena keduanya berasal dari latar belakang budaya serta keluarga yang berbeda maka hal tersebut muncul dan terbawa dalam ekhidupan mendatang (kehidupan keluarganya), dan mereka menanamkan pola asuh orang tua yang dulu pernah ia terima terhadap anak-anaknya sekarang.
5.         Tidak menyatunya pandangan tentang menciptakan hubungan yang harmonis dalam keluarga
6.         Perbedaan konsep hidup antar suami istri

D.      Upaya Penanganan Kasus
Untuk mengatasi kasus ini hal pertama yang perlu dilakukan adalah menyamakan konsep antara pasangan suami istri tersebut. Selain solusi lainnya juga sangat perlu dilakukan. Berikut ini merupakan upaya penanganan secara umum dari kasus perbedaan budaya dalam keluarga, antara lain :
1)        Menyamakan konsep antara pasangan suami istri tersebut.
Perbedaan tersebut perlu diselesaikan secepatnya kemudian perlu disepakati norma-norma dan nilai-nilai bersama dalam keluarga.
2)        Pasangan tersebut harus menyamakan gambaran ideal mereka tentang sebuah keluarga yang baik bagi mereka berdua. Hal ini tidaklah mudah mengingat mereka berdua dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang cukup berbeda bahkan mungkin berlawanan. 
3)        Pasangan tersebut perlu menciptakan struktur keluarga mereka yang baru dimana tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Sturuktur yang baru ini diharapkan menjadi penyelesaian atas kebingungan struktur yang terjadi selama ini. 
4)        Mengingat anak-anak yang masih kecil dimana sistem kognisi mereka belum berkembang secara sempurna maka anak-anak cukup menerima secara langsung kesepakatan yang dihasilkan oleh orang tua mereka. Setelah orang tua menyepakati apa yang harus dilakukan, intervensi kepada anak-anak cukup menggunakan model pendekatan behavioristic karena model pendekatan tersebut lah yang dirasa paling efektif.
Dalam konseling tidak hanya mendiskripsikan permasalahan secara umum saja melainkan juga dengan menggunakan berbagai pendekatan dan tehnik agar permasalahan klien benar-benar ditangani sebaik mungkin. Untuk lebih terperinci lagi upaya penanganan diatas akan didampingi dengan pendekatan-pendekatan yang tepat sebagai upaya dalam menyelesaikan masalah klien.  Adapun beberapa pendekatan yang digunakan adalah sebagai berikut :
1.         Pendekatan analisis transaksional
Menurut Gerald Corey Analisis Transaksional berakar pada filosofi antideterministik. Analisis ini juga mengakui bahwa mereka dipengaruhi oleh harapan serta tuntutan oleh orang lain yang signifikan baginya, terutama oleh karena keputusan yang terlebih dulu telah dibuat pada masa hidupnya mereka pada saat mereka sangat tergantung pada orang lain. Tetapi keputusan dapat ditinjau kembali dan ditantang, dan apabila keputusan yang telah diambil terdahulu tidak lagi cocok, bisa dibuat keputusan baru. Pendekatan ini memiliki beberapa struktur kepribadian antara lain status ego anak (SEA), status ego orang tua (SEO) dan status ego dewasa (SED).(dikutip dari http://binham.wordpress.com/2012/07/02/pendekatan-analisis-transaksional/ pada tanggal 17 maret 2013 jam 9:48).
Dibawah ini adalah penjelasan secara singkat tentang struktur kepribadian :
a)        Status Ego Anak (SEA). Ego anak dapat dilihat dalam dua bentuk yaitu sebagai seorang anak yang menyesuaikan dan anak yang wajar. Anak yang menyesuaikan diujudkan dengan tingkah laku yang dipengaruhi oleh orang tuanya. Hal ini dapat menyebabkan anak bertindaak sesuai dengan keinginan orang tuanya seperti penurut, sopan, dan patuh, sebagai akibatnya anak akan menarik diri, takut, manja, dan kemungkinan mengalami konflik. Anak yang wajar akan terlihat dalam tingkah lakunya seperti lucu, tergantung, menuntut, egois, agresi, kritis, spontan, tidak mau kalah dan pemberontak.di dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat jika terjadi suatu interaksi antara dua individu.
b)        Status Ego Dewasa (SED). Status ego dewasa dapat dilihat dari tingkah laku yang bertanggung jawab, tindakan yang rasional dan mandiri. Sifat dari status ego dewasa adalah obyektif, penuh perhitungan dan menggunakan akal.Didalam kehidupan sehari-hari interaksi dengan menggunakan status ego dewasa.
c)        Status Ego Orang Tua (SEO). status ego orang tua merupakan suatu kumpulan perasaan, sikap, pola-pola tingkah laku yang mirip dengan bagaimana orang tua individu merasa dan bertingkah laku terhadap dirinya.Ada dua bentuk sikap orang tua, yang pertama adalah orang tua yang selalu mengkritik-merugikan, dan yang kedua adalah orang tua yang sayang.
Dari ketiga ego states tersebut kasus perbedaan budaya dalam keluarga dapat ditangani menggunakan pendekatan analisis transaksional. Dilihat dari SEO yang ada dalam kasus dimana pasangan tersebut mencoba menanamkan apa yang klien dapatkan dari orang tuanya dulu untuk diterapkan dalam kehidupan barunya atau kehidupan rumah tangganya saat ini. Sedangkan SEAnya, anak meniru perilaku orang tua yang keliru.
Dengan menggunakan  tehnik permission (pemberian kesempatan) dalam analisis transaksional maka klien akan diberikan kesempatan untuk menggunakan waktunya secara lebih efektif, klien diharapkan dapat mengalami semua status ego yang biasanya dilakukan dengan mendorong klien untuk menggunakan kemampuan status ego dewasanya untuk menikmati kehidupan. Selain itu mengubah perintah-perintah lama atau persepsi lama dan menggantinya dengan persepsi baru yang lebih baik tanpa menghilangkan  status ego dewasanya. Dengan pendekatan dan tehnik tersebut diharapkan klien dapat mengubah pola perilaku yang keliru dan mulai membuat keputusan baru yang sesuai dengan emninggalkan keputusan lama yang sudah tidak fungsional lagi.

2.         Pendekatan Humanistik
Konsep dasar dari pendekatan huamanistik ini adalah manusia sebagai makhluk hidup yang dapat menentukan sendiri apa yang ia kerjakan dan yang tidak dia kerjakan, dan bebas untuk menjadi apa yang ia inginkan. Setiap orang bertanggung jawab atas segala tindakannya.Manusia tidak pernah statis, ia selalu menjadi sesuatu yang berbeda, oleh karena itu manusia mesti berani menghancurkan pola-pola lama dan mandiri menuju aktualisasi diri. Setiap orang memiliki potensi kreatif dan bisa menjadi orang kreatif. Kreatifitas merupakan fungsi universal kemanusiaan yang mengarah pada seluruh bentuk self expression.Teknik yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam pendekatan ini yaitu teknik client centered counseling, sebagaimana dikembangkan oleh Carl R. Rogers. meliputi: (1) acceptance (penerimaan); (2) respect (rasa hormat); (3) understanding (pemahaman); (4) reassurance (menentramkan hati); (5) encouragementlimited questioning (pertanyaan terbatas); dan (6) reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan). (memberi dorongan);
Dalam pendekatan ini mengacu pada bagaimana mengendalikan pemikiran irrasional mennjadi pemikiran yang rasional dan logis. Peristiwa-peristiwa yang pernah dialami klien akan berdampak pada pemikiran irrasional dalam kehidupannya, dimana pemikiran tersebut terus dianutnya dan telah menjadi keyakinannya. Perilaku tersebut perlu diubah karena dapat mengganggu klien pada saat ini karena dia tidak bisa memasuki dunianya saat ini sehingga masih terbawa keyakinan atau pandangan terdahulu. Seperti pada kasus dimana pasangan suami istri masih menggunakan pandangan atau persepsi yang diyakini keduanya merupakan cara terbaik dalam membina keluarga. Pasangan tersebut masih membawa pandangan atau konsep hidup dari keluarganya masing-masing, intinya apa yang mereka alami sebelumnya diulangi kembali dalam kehidupan barunya (rumah tangga) sehingga persepsi dan keyakinan mereka saling bertentangan. Berdasarkan permasalahan tersebut pendekatan humanistic dengan penggunaan tehnik client centered dapat membantu klien dalam memahami dan menerima diri dan lingkungannya dengan baik; mengambil keputusan yang tepat; mengarahkan diri; mewujudkan dirinya.
3.         Pendekatan Behavioristik
Pendekatan ini mengacu pada pengubahan tingkah laku manusia.Dalam pandangan konsep behavioristic tingkah laku manusia diperoleh dari belajar, dan proses terbentuknya kepribadian adalah melalui proses kematangan dan belajar. Jadi perilaku positif ataupun negative didapatkan dari proses belajar.Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya. Menurut pendekatan ini tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui pembelajaran salah satunya peniruan. Karakteristik konseling behavioral adalah : (a) berfokus pada tingkah laku yang tampak dan spesifik, (b) memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan konseling, (c) mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien, dan (d) penilaian yang obyektif terhadap tujuan konseling.Dengan pendekatan ini klien didorong untuk mengeksperimen tingkah laku baru untuk perluasan tingkah laku adaptif mereka. Dalam hal ini klien mampu belajar untuk mengubah perilaku sebelumnya menjadi perilaku yang lebih baik lagi.
Dalam kasus terlihat bahwa kesalahan orang tua berdampak pada perilaku anak yang berawal dari kebingungan anak karena persepsi atau cara mendidik anak yang berbeda, sehingga anak menjadi tidak terkendali dan justru berperilaku semaunya.Kesalahan pola pikir dan pola asuh orang tua membuat anak menjadi bingung akanhal-hal yang diperbolehkan dan mana yang tidak diperbolehkan. Selain itu orang tua pun merasa benar satu sama lain dengan apa yang telah ia dapatkan dulu dari keluarganya. Sesuai dengan budaya dan peraturannya masing-masing tersebut mereka tanamkan dalam kehidupan barunya yang dapat berakibat buruk dalam kehidupan keluarganya.
Untuk mengatasi hal tersebut agar sikap anak dapat dikendalikan dan orang tua juga dapat mengubah tingkah laku mereka maka tingkah laku maladaptif (masalah) untuk digantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan klien. Dengan menggunakan tehnik pengkondisian aversi.Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya likan stimulus tersebut.Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar